Contoh percakapan
NHKlangit11.blogspot.com
Kamu: Lagi ngapain?
Dia: Rebahan.
Kamu: Tumben gak sibuk.
Dia: Lagi males.
Kamu: Males gerak atau males hidup? ðŸ˜
Dia: Males gerak wkwk.
Kamu: Oalah, aman. Aku kira harus panggil ambulans 😂
Dia: Apaan sih wkwk.
Kamu: Eh aku mau nanya sesuatu.
Dia: Apa?
Kamu: Kalau kamu lagi rebahan terus tiba-tiba ada makanan favorit kamu di depan pintu, kamu bakal bangun gak?
Dia: Bangun lah.
Kamu: Nah ketauan.
Dia: Ketauan apaan?
Kamu: Kamu ternyata bisa bergerak kalau ada motivasi.
Dia: Ya iyalah.
Kamu: Berarti selama ini bukan males. Cuma belum ada alasan yang cukup kuat buat bangun 😂
Dia: Bisa jadi.
Kamu: Oke pertanyaan jebakan kedua.
Dia: Apaan?
Kamu: Kalau makanan favorit kamu sama orang favorit kamu sama-sama manggil dari luar kamar, kamu keluar duluan karena siapa?
Dia: Makanan.
Kamu: ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Dia: Wkwkwk.
Kamu: Jujur banget lagi.
Dia: Ya emang lapar.
Kamu: Berarti kalau mau ngajak kamu pergi, harus bawa makanan dulu?
Dia: Bisa jadi.
Kamu: Wah gampang ternyata.
Dia: Gampang gimana?
Kamu: Aku tinggal bawa gorengan, kamu pasti ikut.
Dia: Gorengan doang?
Kamu: Lah kok mulai nego? 😂
Dia: Minimal seblak.
Kamu: Nah, baru keluar sifat aslinya.
Dia: Wkwk.
Kamu: Kamu kalau makan seblak biasanya yang pedesnya biasa atau yang sampai bibir kebakar?
Dia: Pedes.
Kamu: Level berapa?
Dia: 5.
Kamu: Level 5 masih aman berarti.
Dia: Iya.
Kamu: Bohong. Orang yang bilang “aku kuat pedes” biasanya lima menit kemudian nyari es 😂
Dia: Aku beneran kuat.
Kamu: Oke, kapan-kapan kita tes.
Dia: Tes apaan?
Kamu: Adu kuat makan pedes.
Dia: Boleh.
Kamu: Jangan nyesel ya.
Dia: Kamu emang kuat?
Kamu: Enggak.
Dia: Lah terus?
Kamu: Aku cuma butuh partner buat sama-sama menderita 😂
Dia: Wkwkwk.
Kamu: Eh ngomong-ngomong, kamu dari kecil emang suka makanan pedes?
Dia: Iya kayaknya.
Kamu: Waktu kecil pernah gak makan sesuatu terus dimarahin gara-gara kepedesan?
Dia: Pernah.
Kamu: Terus gimana?
Dia: Dibilang jangan banyak-banyak sambelnya.
Kamu: Wkwk berarti dari kecil udah bandel.
Dia: Enggak bandel.
Kamu: Terus?
Dia: Cuma penasaran.
Kamu: Hahaha “cuma penasaran” biasanya bahasa halus dari “tau bakal dimarahin tapi tetep dilakukan” 😂
Dia: Wkwk bisa aja.
Kamu: Kalau sekarang disuruh pilih, makanan masa kecil yang paling bikin kamu kangen apa?
Dia: Masakan ibu.
Kamu: Wah, ini jawabannya beda.
Dia: Kenapa?
Kamu: Tadi jawabannya irit banget. Sekarang malah langsung “masakan ibu”.
Dia: Ya karena emang kangen.
Kamu: Masakan apa yang paling kamu kangenin?
Dia: [menyebut makanan]
Kamu: Wah itu enak sih. Masakan ibu memang susah dicari gantinya.
Dia: Iya.
Kamu: Kalau suatu hari kamu bisa balik ke satu hari waktu kecil, kamu mau balik ke umur berapa?
Dia: Kayaknya umur 10.
Kamu: Kenapa 10?
Dia: Dulu belum mikirin banyak hal.
Kamu: Hmm... berarti kamu sekarang lagi banyak mikirin sesuatu?
Dia: Lumayan.
Kamu: Tadi awalnya cuma rebahan karena males, ternyata ada banyak pikiran juga ya.
Dia: Iya sih.
Kamu: Mau cerita atau cukup ditemenin ngobrol random aja?
Dia: Cerita dikit boleh.
Kamu: Boleh. Aku dengerin.
Dia: Sebenarnya akhir-akhir ini aku lagi kepikiran soal kerjaan...
Kamu: Ohh, ternyata dari seblak nyasar ke kerjaan 😂
Dia: Wkwk iya.
Kamu: Gak apa-apa. Cerita aja. Yang paling bikin kepikiran bagian apanya?
Dia: ...
Dia: Sebenarnya akhir-akhir ini aku lagi kepikiran soal kerjaan...
Kamu: Hmm, bagian apanya yang paling bikin kepikiran?
Dia: Aku ngerasa capek aja.
Kamu: Capek sama kerjaannya atau lebih ke orang-orangnya?
Dia: Orang-orangnya sih.
Kamu: Nah, ini kayaknya ada cerita 😂
Dia: Ada, tapi males ceritanya.
Kamu: Gak usah kalau belum pengen. Tapi kalau cuma pengen ngeluarin unek-unek, aku dengerin.
Dia: Soalnya ada satu orang yang bikin aku kesel.
Kamu: Temen kerja?
Dia: Iya.
Kamu: Dia ngapain?
Dia: Dia tuh kalau lagi ada masalah, sikapnya berubah ke aku. Kadang jutek, kadang ngomongnya enak banget didengar... tapi kalau sama orang lain dia bisa ketawa-ketawa biasa.
Kamu: Jadi kamu ngerasa kok perlakuannya ke kamu beda ya?
Dia: Iya. Padahal aku gak pernah ada masalah sama dia.
Kamu: Pernah kamu tanya kenapa dia begitu?
Dia: Enggak. Takutnya malah jadi ribut.
Kamu: Berarti selama ini kamu lebih sering diem dan membiarkan aja?
Dia: Iya.
Kamu: Terus kalau kamu diem, masalahnya hilang?
Dia: Enggak. Malah kepikiran.
Kamu: Nah itu. Kadang yang bikin capek bukan masalahnya doang, tapi karena kita terus mikirin sesuatu yang gak pernah kita dapat jawabannya.
Dia: Iya banget.
Kamu: Kamu sebenarnya marah sama dia atau lebih kecewa?
Dia: Kayaknya kecewa.
Kamu: Karena kamu berharap dia memperlakukan kamu lebih baik?
Dia: Iya.
Kamu: Berarti sebenarnya kamu masih peduli sama hubungan kalian sebagai teman.
Dia: Iya. Kalau gak peduli mah aku gak bakal kepikiran.
Kamu: Bener juga.
Dia: Kadang aku mikir, jangan-jangan aku yang terlalu sensitif.
Kamu: Menurutku ngerasa gak nyaman itu gak otomatis berarti kamu terlalu sensitif. Yang penting kita juga coba lihat kejadiannya secara utuh.
Dia: Iya.
Kamu: Dan kamu gak harus langsung mengambil keputusan tentang dia malam ini.
Dia: Maksudnya?
Kamu: Ya udah, untuk sekarang kamu cukup mengakui aja kalau kamu memang capek dan kecewa. Besok kalau suasana udah enak, baru pikirin mau ngomong atau cukup jaga jarak.
Dia: Hmm... masuk akal.
Kamu: Tapi aku penasaran satu hal.
Dia: Apa?
Kamu: Kalau kamu boleh mengubah satu hal dari dia, kamu mau mengubah apa?
Dia: Cara dia ngomong kalau lagi marah.
Kamu: Kenapa?
Dia: Karena kadang dia ngomong seenaknya. Aku ngerti dia lagi emosi, tapi kan aku juga punya perasaan.
Kamu: Nah, itu sebenarnya inti masalahnya.
Dia: Iya.
Kamu: Kamu gak keberatan dia punya masalah. Kamu cuma gak mau masalah dia dilampiaskan ke kamu.
Dia: Betul.
Kamu: Dan menurutku itu wajar.
Dia: Makasih ya udah mau dengerin.
Kamu: Santai. Tapi aku baru sadar sesuatu.
Dia: Apa?
Kamu: Kita tadi mulai dari bahas seblak.
Dia: Wkwk iya.
Kamu: Terus nyasar ke masa kecil.
Dia: Iya.
Kamu: Terus nyasar ke kerjaan.
Dia: Wkwk.
Kamu: Ini kalau diterusin sampai pagi kayaknya kita bisa bahas silsilah keluarga 😂
Dia: Hahaha bisa aja.
Kamu: Eh tapi sekarang agak lega gak?
Dia: Lumayan sih.
Kamu: Nah bagus. Kadang cerita memang gak langsung menyelesaikan masalah, tapi setidaknya kepala gak terlalu penuh.
Dia: Iya.
Kamu: Tapi jangan karena udah lega terus besok kamu malah balas jutek ke dia ya 😂
Dia: Gak lah.
Kamu: Bagus. Jadi tetap jadi orang baik, tapi jangan sampai terlalu baik sampai orang seenaknya sama kamu.
Dia: Iya, aku juga harus belajar kayaknya.
Kamu: Belajar tegas, bukan belajar galak.
Dia: Susah.
Kamu: Yaudah latihan sama aku.
Dia: Latihan apa?
Kamu: Kalau aku nyebelin, kamu bilang.
Dia: Kamu nyebelin.
Kamu: LAH baru latihan langsung dipakai ðŸ˜
Dia: Wkwkwk.
Kamu: Yaudah, berarti kamu lulus.
Dia: 😂
Kamu: Eh ngomong-ngomong...
Dia: Apalagi?
Kamu: Jadi seblaknya kapan?
Dia: Nah kan balik lagi ke seblak.
Kamu: Dari tadi aku sabar menunggu topik ini kembali 😂
Dia: Besok kali.
Kamu: Beneran?
Dia: Iya.
Kamu: Oke. Tapi ada syarat.
Dia: Apa?
Kamu: Kamu yang pilih tempatnya. Aku takut kalau aku yang pilih nanti seblaknya gak enak terus aku disalahin.
Dia: Wkwk iya.
Kamu: Terus satu lagi.
Dia: Apaan?
Kamu: Besok jangan jawab “lagi diem” kalau aku chat.
Dia: Kenapa?
Kamu: Karena aku udah tahu kalau di balik “lagi diem” ternyata ada banyak cerita 😂
Dia: Wkwk.
Kamu: Yaudah, sekarang istirahat. Udah malam juga.
Dia: Iya.
Kamu: Dan makasih udah cerita.
Dia: Harusnya aku yang bilang makasih.
Kamu: Gak usah. Aku seneng kok kalau kamu bisa sedikit lega.
Dia: Iya, makasih ya.
Kamu: Sama-sama. Udah sana tidur sebelum besok matanya kayak panda.
Dia: Kamu juga.
Kamu: Siap. Selamat malam.
Dia: Malam.
Kamu: Oh iya...
Dia: Apaan lagi ðŸ˜
Kamu: Jangan lupa mimpiin seblak.
Dia: Gak jelas 😂
Kamu: Biar besok gak lupa janji.
Dia: Wkwk iya.
Kamu: Good night 😌
Dia: Good night.
Komentar
Posting Komentar