Contoh percakapan curhat

NHKlangit11.blogspot.com





Dia: Aku tuh akhir-akhir ini capek banget.

Kamu: Hmm... capeknya sampai bikin kamu pengen cerita ke seseorang ya?

Dia: Iya. Aku udah bingung mau cerita ke siapa.

Kamu: Kamu pengen cerita, tapi selama ini kayak gak nemu orang yang menurut kamu bisa benar-benar dengerin?

Dia: Iya.

Kamu: Sini, cerita aja. Gak perlu mikirin ceritanya berantakan atau enggak. Aku dengerin.

Dia: Aku tuh ngerasa semua orang ngeliat aku kuat terus.

Kamu: Jadi di mata mereka kamu kayak orang yang selalu bisa ngadepin semuanya?

Dia: Iya. Kalau ada masalah mereka malah cerita ke aku. Aku juga seneng kalau bisa bantu, cuma...

Kamu: Cuma lama-lama kamu juga pengen ada yang balik nanya, “Kamu sendiri gimana?”

Dia: Nah iya...

Kamu: Dan kayaknya yang bikin kamu capek bukan cuma masalah yang kamu punya. Tapi karena kamu sering jadi tempat orang lain bersandar, sementara kamu sendiri gak punya tempat buat bersandar.

Dia: Iya banget.

Kamu: Berat ya kalau terus-terusan begitu.

Dia: Kadang aku pengen bilang aku juga capek. Tapi takut malah bikin orang lain kecewa.

Kamu: Kamu takut kalau menunjukkan sisi capekmu, mereka bakal melihat kamu berbeda?

Dia: Iya. Takut dianggap lemah juga.

Kamu: Padahal kamu cuma pengen sekali aja gak perlu kuat di depan semua orang.

Dia: Iya...

Kamu: Kalau sama aku, kamu gak perlu pura-pura kuat kok.

Dia: Aku sebenarnya sering nangis sendirian.

Kamu: Hmm...

Dia: Tapi besoknya ya udah, pura-pura biasa lagi.

Kamu: Jadi malamnya kamu keluarkan semuanya sendirian, tapi besok harus kembali seolah-olah gak terjadi apa-apa.

Dia: Iya.

Kamu: Itu pasti melelahkan banget.

Dia: Banget.

Kamu: Waktu kamu nangis sendirian, biasanya yang paling sering kepikiran apa?

Dia: Aku sering mikir, “Kapan ya ada orang yang benar-benar ngerti aku?”

Kamu: Kamu sebenarnya gak sedang mencari orang yang selalu punya solusi, ya?

Dia: Enggak.

Kamu: Kamu cuma pengen ada seseorang yang bisa dengerin tanpa langsung bilang kamu harus kuat, harus sabar, atau membandingkan masalahmu dengan orang lain.

Dia: Iya. Itu doang.

Kamu: Aku paham.

Dia: Kadang aku takut cerita karena takut dibilang lebay.

Kamu: Berarti selama ini kamu bahkan harus mikirin apakah perasaan kamu pantas diceritakan atau enggak.

Dia: Iya...

Kamu: Padahal buat kamu itu berat. Jadi wajar kalau kamu pengen didengar.

Dia: Makasih ya.

Kamu: Gak usah makasih dulu. Ceritamu belum selesai kan?

Dia: Masih banyak sebenarnya.

Kamu: Yaudah, pelan-pelan aja. Aku gak ke mana-mana.

Dia: Aku juga lagi bingung sama hidup aku sekarang.

Kamu: Bingung soal arah hidupnya, atau lebih ke kamu udah capek ngejalaninnya?

Dia: Dua-duanya mungkin.

Kamu: Hmm. Jadi bukan cuma satu masalah yang lagi kamu hadapi. Kayaknya beberapa hal numpuk barengan sampai kamu sendiri bingung harus mulai dari mana.

Dia: Iya.

Kamu: Kalau kita gak perlu menyelesaikan semuanya malam ini, hal apa yang paling pengen kamu keluarin dulu?

Dia: Yang paling bikin aku sakit hati.

Kamu: Oke. Ceritain yang itu dulu.

Dia: Aku kecewa sama seseorang...

Kamu: Hmm... kamu masih sayang sama orang itu?

Dia: Masih.

Kamu: Pantes rasanya berat. Kalau udah gak peduli mungkin lebih gampang buat ninggalin, tapi karena kamu masih sayang, semuanya jadi lebih kepikiran.

Dia: Iya. Aku pengen marah, tapi aku juga masih peduli.

Kamu: Jadi di satu sisi kamu terluka sama dia, tapi di sisi lain kamu belum bisa benar-benar berhenti berharap dari dia.

Dia: Iya...

Kamu: Aku gak akan bilang kamu harus langsung pergi atau harus bertahan. Aku juga gak mau mengambil keputusan atas nama kamu.

Dia: Terus aku harus gimana?

Kamu: Untuk sekarang? Menurutku kamu boleh ngerasain dulu semuanya. Kecewa ya kecewa. Sedih ya sedih. Marah juga boleh. Gak harus langsung tahu jawabannya malam ini.

Dia: Hmm...

Kamu: Yang penting jangan sampai karena kamu terus berusaha memahami orang lain, kamu lupa bahwa kamu sendiri juga perlu dipahami.

Dia: Aku seneng cerita sama kamu.

Kamu: Kenapa?

Dia: Karena aku gak merasa harus menjelaskan kenapa aku merasa seperti ini.

Kamu: Mungkin karena aku memang gak mau buru-buru mengubah perasaan kamu. Aku cuma pengen ngerti dulu apa yang sebenarnya kamu rasain.

Dia: Makasih ya.

Kamu: Iya. Dan kalau suatu saat kamu cuma pengen cerita tanpa butuh nasihat, bilang aja.

Dia: Kayaknya malam ini aku cuma pengen didengerin.

Kamu: Yaudah. Malam ini aku dengerin. Cerita aja sampai kamu merasa cukup.

Dia: 🥺

Kamu: Gak apa-apa. Kamu gak harus selalu kuat di sini.

Dia: Makasih...

Kamu: Iya. Sekarang lanjut cerita. Aku masih dengerin.


A: Gue akhir-akhir ini lagi capek banget.

B: Capeknya lebih ke badan, pikiran, atau semuanya numpuk?

A: Pikiran sih kayaknya. Banyak banget yang kepikiran.

B: Hmm... kayak badan masih bisa jalan biasa, tapi kepala gak pernah benar-benar istirahat ya?

A: Iya. Persis begitu.

B: Yang paling sering muter di kepala kamu akhir-akhir ini soal apa?

A: Orang-orang sih.

B: Tentang cara mereka memperlakukan kamu?

A: Iya. Kadang gue ngerasa... gue tuh ada gak sih buat mereka?

B: Sampai kamu mempertanyakan keberadaan kamu sendiri di hubungan sama mereka?

A: Iya. Soalnya gue selalu berusaha ada kalau mereka butuh. Tapi pas gue yang butuh, kok kayak sepi banget.

B: Jadi bukan sekadar mereka gak membantu kamu. Kamu lebih ngerasa kayak selama ini kamu selalu berusaha hadir buat mereka, tapi ketika giliran kamu yang butuh ditemenin... gak banyak yang hadir.

A: Nah iya. Itu yang bikin sakit.

B: Gue ngerti kenapa itu bisa bikin kecewa. Apalagi kalau selama ini kamu ngasihnya tulus, bukan karena berharap dibales.

A: Iya. Gue gak pernah mikir, “gue udah baik sama dia, berarti dia harus baik sama gue.” Cuma... ya minimal inget aja kalau gue juga manusia.

B: Kamu sebenarnya gak minta diperlakukan spesial. Kamu cuma pengen dianggap juga punya capek, punya masalah, dan sesekali pengen ditanya, “lu gapapa?”

A: Iya...

B: Pernah sampai kamu pengen cerita ke seseorang, tapi akhirnya batal karena mikir, “ah, mereka juga punya masalah sendiri”?

A: Sering banget.

B: Terus akhirnya kamu simpan sendiri?

A: Iya.

B: Berat ya... bukan cuma karena masalahnya, tapi karena kamu sampai terbiasa menahan cerita supaya gak merepotkan orang lain.

A: Iya. Kadang gue bahkan bingung sendiri kenapa gue bisa nangis cuma gara-gara hal kecil.

B: Mungkin sebenarnya bukan karena hal kecil itu doang.

A: Maksudnya?

B: Bisa jadi hal kecil itu cuma jadi titik terakhir. Sebelumnya udah banyak yang kamu tahan, cuma selama ini kamu masih bisa bilang, “gapapa.”

A: Anjir... iya juga.

B: Jadi kalau malam ini kamu mau cerita, gak usah mikirin ceritanya terlalu rapi. Gak harus masuk akal semuanya. Cerita aja yang paling pengen keluar dulu.

A: Gue sebenarnya cuma pengen ada yang dengerin.

B: Yaudah. Gue dengerin.

A: Makasih ya.

B: Gak usah makasih dulu. Cerita aja. Gue gak akan buru-buru nyari solusi atau bilang kamu harus kuat.

A: Gue baru sadar ternyata gue selama ini capek banget.

B: Iya... kayaknya selama ini kamu terlalu sibuk bertahan sampai gak sempat nanya ke diri sendiri, “gue sebenarnya kuat gak sih?”

A: Iya.

B: Dan kalau ternyata malam ini jawabannya “gue capek”, itu gak bikin kamu lemah kok.

A: Makasih udah gak nge-judge.

B: Santai. Gue gak harus langsung ngerti semuanya. Yang penting gue mau dengerin kamu dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arti lirik atau makna dari lagu alan walker on my way

Petakilan

Harsa